KISAH TENTANG ORANG-ORANG YANG PANTANG MENYERAH ATAU BESEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU
Kisah 1 :
KISAH PERJUANGAN ANAK MARATUA DALAM
MENUNTUT ILMU KE SEKOLAH
PERJUANGAN SEORANG IBU GENDONG ANAKNYA PERGI-PULANG SEKOLAH
KISAH
IRSYAD, BOCAH LUMPUH YANG MERANGKAK KE BERSEKOLAH
Keterbatasan
fisik akibat kedua kakinya lumpuh karena terserang polio sejak lahir tak
menghalangi bocah irsyad (12), berjuang demi bersekolah seperti anak-anak
seusianya. Bocah asal Dusun Lombo'na, Desa Tubo Tengah, Kecamatan Tubo Sendana,
Kabupaten Majene, Sulawesi Barat ini kerap mendatangi sekolahnya dengan cara
merayap setahap demi setahap hingga sampai ke sekolah jika alat bantu jalan
pemberian orang sedang rusak.
Meski cacat fisik, Irsyad berhasil meraih
rangking pertama sejak sekolah.
Beginilah keseharian irsyad, ia bangun lebih
pagi agar bisa mempersiapkan diri ke sekolah lebih cepat agar tidak terlambat
ke sekolah. Meski mengalami keterbatasan fisik akibat kedua kakinya lumpuh,
namun hampir seluruh pekerjaan dilakukan Irsyad seorang diri dengan cara
merayap, mulai dari mandi, memakai seragam sekolah seperti baju dan sepatu.
Adiknya Huriyansah (7) yang kini duduk di kelas
satu sd ini kerap membantu sang kakak memakai celana karena tak mampu berdiri
sambil mengenakan seragam sekolahnya.
Agar tidak terlambat, Irsyad berangkat ke
sekolah lebih awal. Irsyad kerap merayap setahap demi setahap hingga tiba di
sekolahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Alat bantu besi yang
mirip kursi roda yang dirakit keluarganya sendiiri inilah yang menjadi tumpuan
Irsyad untuk memudah diirinya sampai ke sekolah.
Meski kontur jalan di sepanjang rute dari rumah
ke sekolahnya cukup menantang karena kondisi medannya terjal dan menanjak,
namun alat ini diaku Irsyad cukup membantu dirinya. Jika kelelahan mendorong
alat bantu ini di tengah jalan, sejumlah teman sekolahnya yang menaruh simpatik
pada sosok Irsyad yang dikenal sederhana dan santun ini kerap membantu
mendorong hingga sampai ke depan pintu kelasnya di madrasah ibtidaiyyah Darul
Dakwah Wal Irsyad Lombo'na Majene.
Irsyad pernah mendapat bantuan skuter dari dermawan, namun sarana
transportasi untuk Irsyad ini tak bisa ia gunakan lantaran kedua kakinya lumpuh
dan tak bisa dijadikan sandaran.
Kehilangan
Ibunda
Irsyad mengalami cacat fisik karena kedua
kakinya lumpuh akibat terserang polio sejak kecil, ia termasuk siswa yang
paling menonjol dan berprestasi di sekolahnya. Sejak kelas satu hingga kelas
tiga SD, ia meraih rangking pertama di sekolahnya.
Namun belakangan prestasinya turun di rangking
dua dan tiga. Para guru di sekolahnya menduga turunnya prestasi Irsyad yang
selama ini mempertahankan prestasi sebagai rangking satu diduga karena bocah
sederhana ini sedang mengalami guncangan psikologis sejak ibunya, Almawati,
meninggal dunia, saat tengah melahirkan adiknya di rumah sakit setempat setahun
lalu.
Meski bersedih kehilangan ibunda yang paling
dicintai dan paling berjasa mengurus segala kebutuhan hidupnya, namun Irsyad
tampak tetap tegar menghadapi musibah yang sedang menimpanya.
Irsyad yang kini terpaksa harus belajar mengurus
dirinya sendiri ini tampak tetap bersemangat datang ke sekolah. Bocah yang
bercitra-cita menjadi mubaligh terkenal seperti almarhum Jefry al Bukhori ini
tak pernah minder dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.
Di luar
sekolah bocah isryad juga memiliki pretasi lain. Isryad beberpa kali menggondol
juara satu lomba ceramah dan musabah al quran tingkat kecamatan. Iryad yang
meyakini dirinya memiliki kelebihan seperti mahluk lainnya bertekad ingin
membuktikan jika diirnya mampu seperti orang lain.
“Saya tidak malu dan tidak minder, saya percaya
tuhan member kelebihan kepada setiap hambanya,” ujar Irsyad.
Tetap
membanggakan
Ayah Irsyad, Abdul Basir yang berprofesi sebagai
nelayan kecil ini menyebutkan anak sulungnya dari dua bersaudara ini mengalami
cacat fisik lantaran sejak umur tiga bulan ia terserang polio hingga
menyebabkan kelumpuhan kedua kakinya hingga kini. Namun Basir bangga dengan
sikap dan kemandirian putranya ini.
Menurut Basir, meski Irsyad mengalami keterbatasan
fisik dan harus merayap seorang diri ke sekolah jika alat bantunya rusak.
“Saya bangga punya Irsyad, ia mandiri dan
berusaha tidak tergantung pada orang lain. Mudah-mudahan tuhan memberi jalan
hidup yang lebih baik,” ujar Basir.
Para guru di sekolahnya pun mengagumi perjuangan
sosok Irsyad. Kegigihannya untuk bersekolah seperti anak-anak seusianya ia
buktikan menjadi siswa berprestasi di sekolahnya. Meski dengan kondisi fisik
yang terbatas, Irsyad mampu meraih prestasi gemilang yang membanggakan semua
pihak termasuk orang tua, guru dan warga sekitar yang berempati dengan sosok
dan perjuangan Irsyad.
"Dia anak luar biasa. Meski fisiknya
terbatas tapi semnagat belajarnya luar biasa. Tak heran jika prestasinya
membanggakan,” ujar Lukman selaku guru Irsyad.
Sejak kematian ibu tercintanya, praktis beban
hidup Irsyad makin bertambah. Jika selama ini banyak dibantu sang ibu mengurus
kebutuhannya seperti membantu menyiapkan kebutuhan sekolah termasuk seragamnya
kini terpaksa harus diurus sendiri oleh Irsyad.
Irsyad yang memahami setiap ciptaan tuhan
memiliki kelebihan ini mengaku optimis kelak ia bisa bersekolah tinggi dan
menjadi mubaligh ternama seperti sosok almarum Jefry al Bukhori yang
dikaguminya.
Kisah 2 :
PERJUANGAN
SISWA DI DESA CICARINGIN
Jembatan Leuwi Lember yang ambruk gara-gara tergerus Sungai
Ciliman di Desa Cicaringin, hanya tinggal kawat. Jembatan itu tak kunjung
diperbaiki kendati sudah diadukan tokoh masyarakat setempat ke DPRD Banten
hingga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.
Foto terbaru Jembatan Leuwi Lember yang hanya tinggal kawat itu berhasil diabadikan oleh wartawan foto Antara, Asep Fathulrahman. Dalam foto yang dimuat di Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo halaman 10 itu memiliki caption: "JEMBATAN KAWAT BAJA" Para siswa kelas enam SD Negeri Cicaringin 3 ini bukan sedang melakukan kegiatan outbond. Ketiadaan jembatan memaksa mereka meniti kawat baja menyeberangi Sungai Ciliman saat akan mengikuti ujian nasional di Desa Cicaringin, Banten."
Memprihatinkan! Dalam foto itu tampak sekitar 8 bocah berseragam SD, ada yang memakai baju olahraga, semuanya bersandal jepit. Mereka dengan berhati-hati memegangi kawat baja yang melintang pukang di atas Sungai Ciliman selebar sekitar 40 meter. Ketinggian jembatan kawat baja dari atas sungai sekitar 5 meter.
Dari berita yang ditelusuri dari situs gardaberita.com, jembatan itu ambrol pada awal Maret 2011. Pada April 2011 warga setempat sudah menghabiskan ratusan juta untuk membangun pondasi dan tiang pancang secara swadaya. Namun upaya pembangunan itu terhenti, lantaran warga kehabisan dana.
Beberapa tokoh masyarakat setempat sebenarnya sudah mengadukan mengenai jembatan yang putus ini kepada DPRD Banten. Mereka diterima Komisi D yang membawahi bidang insfrastruktur dan transportasi, yaitu Ketua Komisi D DPRD Lebak, H Dana Ukon dan beberapa anggota dewan, M Nur, Sirod dan H Suharjaya alias Bhonek.
Mereka menanyakan kepastian perbaikan Jembatan Leuwi Lember karena hingga sebulan berlalu, belum ada tanda-tanda pejabat dinas terkait datang mengecek, apalagi memperbaiki jembatan. Warga pun selama ini ketar-ketir menyeberang jembatan dengen getek karena arus sungai yang deras.
Komisi D DPRD Banten itu merujuk laporan warga Desa Cicaringin ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Masalah Jembatan Leuwi Lember ini pun sudah sampai ke telinga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Usai penutupan pekan daerah KTNA di Gedung LPMP, Rangkasbitung, Lebak, Kamis (21/04/2011), Ratu Atut berjanji jembatan itu menjadi prioritas.
Ratu memerintahkan Binamarga dan Tata Ruang (BMTR) Pemprov Banten untuk segera membantu Pemkab Lebak untuk membangun kembali jembatan tersebut. Saat itu, Atut bahkan segera mengangkat teleponnya, menelepon pejabat terkait, pembangunan jembatan gantung itu menjadi prioritas yang dibangun tahun ini.
Anak-anak sekolah di Desa Cicaringin itu masih tertangkap kamera menyeberangi jembatan dengan merambati kawat di atas Sungai Ciliman. Bahaya pun mengancam anak-anak itu.
Foto terbaru Jembatan Leuwi Lember yang hanya tinggal kawat itu berhasil diabadikan oleh wartawan foto Antara, Asep Fathulrahman. Dalam foto yang dimuat di Majalah Berita Mingguan (MBM) Tempo halaman 10 itu memiliki caption: "JEMBATAN KAWAT BAJA" Para siswa kelas enam SD Negeri Cicaringin 3 ini bukan sedang melakukan kegiatan outbond. Ketiadaan jembatan memaksa mereka meniti kawat baja menyeberangi Sungai Ciliman saat akan mengikuti ujian nasional di Desa Cicaringin, Banten."
Memprihatinkan! Dalam foto itu tampak sekitar 8 bocah berseragam SD, ada yang memakai baju olahraga, semuanya bersandal jepit. Mereka dengan berhati-hati memegangi kawat baja yang melintang pukang di atas Sungai Ciliman selebar sekitar 40 meter. Ketinggian jembatan kawat baja dari atas sungai sekitar 5 meter.
Dari berita yang ditelusuri dari situs gardaberita.com, jembatan itu ambrol pada awal Maret 2011. Pada April 2011 warga setempat sudah menghabiskan ratusan juta untuk membangun pondasi dan tiang pancang secara swadaya. Namun upaya pembangunan itu terhenti, lantaran warga kehabisan dana.
Beberapa tokoh masyarakat setempat sebenarnya sudah mengadukan mengenai jembatan yang putus ini kepada DPRD Banten. Mereka diterima Komisi D yang membawahi bidang insfrastruktur dan transportasi, yaitu Ketua Komisi D DPRD Lebak, H Dana Ukon dan beberapa anggota dewan, M Nur, Sirod dan H Suharjaya alias Bhonek.
Mereka menanyakan kepastian perbaikan Jembatan Leuwi Lember karena hingga sebulan berlalu, belum ada tanda-tanda pejabat dinas terkait datang mengecek, apalagi memperbaiki jembatan. Warga pun selama ini ketar-ketir menyeberang jembatan dengen getek karena arus sungai yang deras.
Komisi D DPRD Banten itu merujuk laporan warga Desa Cicaringin ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Masalah Jembatan Leuwi Lember ini pun sudah sampai ke telinga Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Usai penutupan pekan daerah KTNA di Gedung LPMP, Rangkasbitung, Lebak, Kamis (21/04/2011), Ratu Atut berjanji jembatan itu menjadi prioritas.
Ratu memerintahkan Binamarga dan Tata Ruang (BMTR) Pemprov Banten untuk segera membantu Pemkab Lebak untuk membangun kembali jembatan tersebut. Saat itu, Atut bahkan segera mengangkat teleponnya, menelepon pejabat terkait, pembangunan jembatan gantung itu menjadi prioritas yang dibangun tahun ini.
Anak-anak sekolah di Desa Cicaringin itu masih tertangkap kamera menyeberangi jembatan dengan merambati kawat di atas Sungai Ciliman. Bahaya pun mengancam anak-anak itu.
Kisah 3 :
KISAH PERJUANGAN ANAK MARATUA DALAM
MENUNTUT ILMU KE SEKOLAH
Keterbatasan fasilitas pendidikan di
pulau terluar tak menyurutkan niat anak-anak SD 04 Kampung Teluk Alulu,
Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur untuk bersekolah. Semangat
untuk bersekolah hanya luntur ketika cuaca laut tak bersahabat.
Pulau Maratua, pulau terluar Indonesia yang letaknya di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan Filipina hanya memiliki satu sekolah dasar. Letaknya ada di Kampung Teluk Alulu.
Pulau Maratua, pulau terluar Indonesia yang letaknya di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan Filipina hanya memiliki satu sekolah dasar. Letaknya ada di Kampung Teluk Alulu.
Di Maratua, terdapat tiga kampung lain
yakni Payung-payung, Boheseloan dan Bohebukut. Untuk sekolah, anak-anak ketiga
kampung harus pergi ke Kampung Atalulu yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer
dari kampung paling ujung.
Untuk menempuh perjalanan jauh itu, anak-anak yang tinggal di RT 1, disediakan kapal oleh kecamatan. Kapal, akan membawa mereka pergi dan pulang sekolah. Namun, cuaca tak selamanya baik bagi kapal.
"Kalau gelombang lagi tinggi, kapal enggak berani jalan. Anak-anak sekolah diantar orang tuanya pakai motor," ujar Kepala Sekolah SD 04, Agus Purwo Utomo saat berbincang bersama wartawan di Maratua, Jumat (5/12/2015).
Tapi kata Agus, tak semua orang tua memiliki motor sehingga tidak semua anak-anak bisa sekolah bila gelombang sedang tinggi. Kalau sudah begini, anak-anak hanya bisa berdiam diri di rumah..
"Ya kalau gelombang tinggi puluhan anak enggak masuk sekolah. Kita juga memaklumi," ujar Agus.
Meski demikian, Agus mengatakan baik guru maupun orang tua tak patah arang. Selama masih aman, Agus meminta anak-anak tetap sekolah.
"Tetap sekolah meskipun cuaca laut kurang bagus, kalau masih aman kita minta orang tua, anak-anaknya sekolah. Tapi kalau kita lihat sudah tidak aman, tidak memungkinkan untuk anak-anak datang, mereka tidak sekolah," ujar Agus.
Lantaran cuaca laut itu juga, anak-anak setiap hari masuk sekolah pukul 07.30 WITA sampai pukul 12.00 WITA. Mereka belajar setiap Senin hingga Sabtu. Meski singkat, Agus menjelaskan, anak-anak dipastikan mendapat pelajaran yang sesuai.
"Mereka dapat ekstrakulikuler dari kakak-kakak SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kalau ada yang kurang nanti dibantu di luar jam sekolah," ungkap Agus.
Saat ini sebanyak 103 anak belajar di SD 04. Mereka terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Adapun, anak-anak SD itu saat ini diajar oleh tujuh guru dan dua tenaga pengajar dari SM3T.
Untuk menempuh perjalanan jauh itu, anak-anak yang tinggal di RT 1, disediakan kapal oleh kecamatan. Kapal, akan membawa mereka pergi dan pulang sekolah. Namun, cuaca tak selamanya baik bagi kapal.
"Kalau gelombang lagi tinggi, kapal enggak berani jalan. Anak-anak sekolah diantar orang tuanya pakai motor," ujar Kepala Sekolah SD 04, Agus Purwo Utomo saat berbincang bersama wartawan di Maratua, Jumat (5/12/2015).
Tapi kata Agus, tak semua orang tua memiliki motor sehingga tidak semua anak-anak bisa sekolah bila gelombang sedang tinggi. Kalau sudah begini, anak-anak hanya bisa berdiam diri di rumah..
"Ya kalau gelombang tinggi puluhan anak enggak masuk sekolah. Kita juga memaklumi," ujar Agus.
Meski demikian, Agus mengatakan baik guru maupun orang tua tak patah arang. Selama masih aman, Agus meminta anak-anak tetap sekolah.
"Tetap sekolah meskipun cuaca laut kurang bagus, kalau masih aman kita minta orang tua, anak-anaknya sekolah. Tapi kalau kita lihat sudah tidak aman, tidak memungkinkan untuk anak-anak datang, mereka tidak sekolah," ujar Agus.
Lantaran cuaca laut itu juga, anak-anak setiap hari masuk sekolah pukul 07.30 WITA sampai pukul 12.00 WITA. Mereka belajar setiap Senin hingga Sabtu. Meski singkat, Agus menjelaskan, anak-anak dipastikan mendapat pelajaran yang sesuai.
"Mereka dapat ekstrakulikuler dari kakak-kakak SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kalau ada yang kurang nanti dibantu di luar jam sekolah," ungkap Agus.
Saat ini sebanyak 103 anak belajar di SD 04. Mereka terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Adapun, anak-anak SD itu saat ini diajar oleh tujuh guru dan dua tenaga pengajar dari SM3T.
Kisah 4 :
PERJUANGAN SEORANG IBU GENDONG ANAKNYA PERGI-PULANG SEKOLAH
Seorang
siswa kelas IV di SD Negeri 1 Senden, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur terpaksa
pulang-pergi ke sekolah dengan digendong sang ibu karena menderita lumpuh layu
akibat kerusakan saraf dan melemahnya otot kaki (guillain-barre syndrome).
Menurut penuturan pihak guru kelas maupun orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) saat ditemui Antara, Sabtu, sulung dua saudara itu mulai mengalami disabilitas akut sejak setahun terakhir.
"Sejak kelas IV sebenarnya sudah tampak ada gejala kelainan, namun belum separah setahun terakhir," tutur Kepala SDN 1 Senden Sumardjadi.
Ia mengaku sudah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Dio, dan mendapat masukkan agar memberi perlakukan khusus pada siswa penderita lumpuh layu tersebut mengingat harapan hidupnya yang diprediksi tidak panjang.
Rekomendasi itu telah dilakukan oleh pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap belajar melanjutkan sekolah hingga lulus, meski beberapa kegiatan seperti ujian praktik tidak bisa dia lakukan sebagaimana siswa normal.
Namun sayangnya, kata Sumardjadi, sekolahnya sejauh ini belum memfasilitasi penyediaan kursi roda untuk aktivitas Dio selama di area sekolah karena belum adanya alokasi biaya khusus, termasuk dari luar lingkup sekolah.
"Selama di sekolah Dio biasanya hanya bangku kelas, tempatnya duduk dan tidak ke mana-mana sampai pulang. Dio pulang-pergi selalu dijemput dan dihantar ibunya, kadang bapaknya jika pas pulang dari perantauan di Kalimantan," katanya.
Dio sendiri saat dikonfirmasi mengaku tetap semangat sekolah karena motivasinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden.
Dio berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, namun ia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.
Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan dan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan sekolah umum.
"Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri," ucap Dio.
Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya sejak umur empat tahun, atau ketika duduk di bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).
Saat itu, tutur si ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolahnya diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.
"Setelah itu guru memberitahu hal ini kepada ibu, dan semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter," tuturnya.
Hasilnya, lanjut Yuliati, apa yang dikhawatirkan gurunya tersebut terbukti, sebab secara berangsur penyakitnya semakin parah.
Hal itu dibuktikan semenjak masuk di kelas 1 SD, Dio tidak bisa berjalan dengan lancar lagi.
Selain itu, setiap kali berjalan dirinya harus dipapah oleh orang lain, atau dengan cara merambat di tembok (trantanan) atau benda lainnya. "Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit," ucap Dio menuturkan.
Untuk itu, setiap kali di sekolah yang dilanjutkan di rumah dirinya selalu menghabiskan waktu dengan duduk maupun berbaring.
Penyakit Dio diduga bersifat genetis, mengacu riwayat penyakit keluarganya dimana salah satu paman Dio mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal dunia, beberapa tahun silam.
"Ternyata setelah saya bawa, pihak RSUD dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya," tutur Yuliati.
Saat itulah, berdasarkan hasil rontgen pihak rumah sakit setempat, mengatakan Dio mengalami kelainan genetis, sehingga hal tersebut membuat susunan otot di kedua kakinya tidak ada, hingga seakan di kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).
Hal tersebutlah yang membuat rumah sakit mengatakan bahwa kaki Dio tidak bisa dioperasi agar bisa sembuh dan berjalan seperti sedia kala.
Yuliati mengaku tidak pernah lelah untuk selalu menghantar putra sulung dari dua bersaudara itu berangkat sekolah, menggendongnya lalu membonceng menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.
Sesampainya di sekolah, wanita asal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak ini juga menggendong Dio lagi, untuk di tempatkan pada bangkunya.
Hal serupa yang dilakukan ketika pulangnya dan setiap harinya. "Sampai saat ini anak saya ini masih berniat untuk sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa masuk sekolah lagi, juga ada perlakukan khusus untuknya," ujarnya.
Menurut penuturan pihak guru kelas maupun orang tua siswa bernama Dio Eka Saputra (12) saat ditemui Antara, Sabtu, sulung dua saudara itu mulai mengalami disabilitas akut sejak setahun terakhir.
"Sejak kelas IV sebenarnya sudah tampak ada gejala kelainan, namun belum separah setahun terakhir," tutur Kepala SDN 1 Senden Sumardjadi.
Ia mengaku sudah mendapat penjelasan dari dokter yang menangani Dio, dan mendapat masukkan agar memberi perlakukan khusus pada siswa penderita lumpuh layu tersebut mengingat harapan hidupnya yang diprediksi tidak panjang.
Rekomendasi itu telah dilakukan oleh pihak SDN 1 Senden dengan memberi kesempatan Dio tetap belajar melanjutkan sekolah hingga lulus, meski beberapa kegiatan seperti ujian praktik tidak bisa dia lakukan sebagaimana siswa normal.
Namun sayangnya, kata Sumardjadi, sekolahnya sejauh ini belum memfasilitasi penyediaan kursi roda untuk aktivitas Dio selama di area sekolah karena belum adanya alokasi biaya khusus, termasuk dari luar lingkup sekolah.
"Selama di sekolah Dio biasanya hanya bangku kelas, tempatnya duduk dan tidak ke mana-mana sampai pulang. Dio pulang-pergi selalu dijemput dan dihantar ibunya, kadang bapaknya jika pas pulang dari perantauan di Kalimantan," katanya.
Dio sendiri saat dikonfirmasi mengaku tetap semangat sekolah karena motivasinya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan hingga lulus kelas VI di SDN 1 Senden.
Dio berharap bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP, namun ia menyatakan saat ini tidak terlalu yakin karena malu dengan kondisinya yang tidak normal.
Sementara untuk melanjutkan belajar di SLB, Dio enggan dan memilih tidak melanjutkan pendidikan jika bukan sekolah umum.
"Sebenarnya saya ingin untuk tetap sekolah, dan meneruskan pendidikan ke jenjang SMP juga SMA, namun dengan keadaan seperti ini saya terus terang malu. Tidak percaya diri," ucap Dio.
Menurut keterangan sang ibu, Yuliati Asifa Ningsih (36), penyakit Dio itu mulai diketahuinya sejak umur empat tahun, atau ketika duduk di bangku taman kanan-kanan (TK) kelas B (nol kecil).
Saat itu, tutur si ibu, Dio megikuti lomba lari yang diadakan sekolahnya diawasi guru. Namun ketika akan bertanding, tiba-tiba sang guru melarangnya dengan alasan sikap dan cara jalan-lari Dio tidak seperti yang lain, tidak normal.
"Setelah itu guru memberitahu hal ini kepada ibu, dan semenjak saat itu saya langsung bawa ke dokter," tuturnya.
Hasilnya, lanjut Yuliati, apa yang dikhawatirkan gurunya tersebut terbukti, sebab secara berangsur penyakitnya semakin parah.
Hal itu dibuktikan semenjak masuk di kelas 1 SD, Dio tidak bisa berjalan dengan lancar lagi.
Selain itu, setiap kali berjalan dirinya harus dipapah oleh orang lain, atau dengan cara merambat di tembok (trantanan) atau benda lainnya. "Sakit jika dipaksa buat jalan. Seluruh badan sakit," ucap Dio menuturkan.
Untuk itu, setiap kali di sekolah yang dilanjutkan di rumah dirinya selalu menghabiskan waktu dengan duduk maupun berbaring.
Penyakit Dio diduga bersifat genetis, mengacu riwayat penyakit keluarganya dimana salah satu paman Dio mengalami kelumpuhan yang sama hingga akhirnya meninggal dunia, beberapa tahun silam.
"Ternyata setelah saya bawa, pihak RSUD dr Soedomo tidak sanggup merawatnya, makanya merujuk Dio ke RSUD dr. Soetomo, Surabaya," tutur Yuliati.
Saat itulah, berdasarkan hasil rontgen pihak rumah sakit setempat, mengatakan Dio mengalami kelainan genetis, sehingga hal tersebut membuat susunan otot di kedua kakinya tidak ada, hingga seakan di kaki hanya terdapat tulang saja (guillain-barre syndrome).
Hal tersebutlah yang membuat rumah sakit mengatakan bahwa kaki Dio tidak bisa dioperasi agar bisa sembuh dan berjalan seperti sedia kala.
Yuliati mengaku tidak pernah lelah untuk selalu menghantar putra sulung dari dua bersaudara itu berangkat sekolah, menggendongnya lalu membonceng menggunakan sepeda motor ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer.
Sesampainya di sekolah, wanita asal Dusun Balang, Desa Senden, Kecamatan Kampak ini juga menggendong Dio lagi, untuk di tempatkan pada bangkunya.
Hal serupa yang dilakukan ketika pulangnya dan setiap harinya. "Sampai saat ini anak saya ini masih berniat untuk sekolah dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi, makanya dengan ini saya berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa masuk sekolah lagi, juga ada perlakukan khusus untuknya," ujarnya.
KISAH TENTANG ORANG-ORANG YANG PANTANG MENYERAH ATAU BESEMANGAT DALAM MENUNTUT ILMU
Reviewed by bisnisrumahq.blogspot.com
on
Thursday, November 16, 2017
Rating:
No comments: